B2SA

Diposting oleh:

Share on facebook
Share on twitter
Share on whatsapp
Share on pinterest
Share on email
Share on telegram

Hubungan Antara Skor PPH dengan Konsumsi Pangan B2SA

Artikel :

Setiap individu membutuhkan makanan sebagai sumber energi untuk beraktivitas. Makanan yang dikonsumsi sangat berpengaruh terhadap kondisi fisiologis tubuh. Oleh karena itu, asupan makanan harus diperhatikan kualitas dan kuantitasnya. Kualitas ditentukan berdasarkan kandungan gizi dari komoditas pangan dimana di dalamnya terkandung beragam nilai gizi yang dibutuhkan tubuh seperti karbohidrat, protein, lemak, mineral, dan vitamin. Kemudian kuantitas merupakan jumlah asupan makanan yang diperlukan oleh tubuh sesuai dengan umur dan jenis kelamin.

Untuk memenuhi aspek kualitas dan kuantitas tersebut maka sekarang kita mengenal konsep Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA), artinya setiap makanan yang dikonsumsi harus beragam komoditasnya, bernilai gizi yang baik bagi kesehatan tubuh, seimbang yaitu sesuai dengan kebutuhan tubuh, dan aman dari cemaran yang berpotensi mengganggu kesehatan.

Konsumsi pangan yang beragam dan bergizi di tingkat keluarga dapat menentukan kualitas konsumsi masyarakat di tingkat kabupaten/kota, provinsi, hingga nasional. Adapun parameter yang mengukur situasi konsumsi pangan masyarakat ini adalah Pola Pangan Harapan (PPH).

Apa itu skor Pola Pangan Harapan (PPH)?

FAO-RAPA (1989) mendefinisikan PPH sebagai “komposisi kelompok pangan utama yang bila dikonsumsi dapat memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya”. Maka PPH merupakan susunan beragam pangan yang didasarkan atas proporsi keseimbangan energi dari berbagai kelompok pangan untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya, baik dalam jumlah maupun mutu dengan mempertimbangkan segi daya terima, ketersediaan pangan, ekonomi, budaya dan agama. Pola pangan harapan (PPH) ini ditunjukkan melalui skor dengan skor maksimal 100. Oleh karena itu semakin beragam dan proporsional konsumsi pangan masyarakat maka skor PPH-nya makin tinggi.

Bagaimana Konsumsi Pangan B2SA Memengaruhi Skor PPH

Konsep Pangan Beragam, Bergizi, Seimbang (B2SA) ini berkaitan erat dengan skor Pola Pangan Harapan (PPH). Karena implementasi pola pangan beragam, bergizi, seimbang dan aman di tingkat keluarga akan berdampak pada cakupan masyarakat yang lebih luas sehingga memengaruhi capaian skor PPH. Dalam penghitungan skor PPH, setiap kelompok pangan diberi bobot yang didasarkan pada fungsi pangan dalam triguna makanan (sumber karbohidrat/zat tenaga, sumber protein/zat pembangun, serta vitamin dan mineral/zat pengatur). Ketiga fungsi zat gizi tersebut memiliki proporsi yang seimbang, masingmasing sebesar 33.3% (berasal dari 100% dibagi 3).

Peran Pemerintah

Skor Pola Pangan Harapan (PPH) menjadi Indikator Kinerja Pemerintah untuk menilai kualitas konsumsi masyarakat Jawa Barat. Skor PPH ini juga menjadi dasar perencanaan konsumsi, kebutuhan dan penyediaan pangan yang ideal di wilayah Jawa Barat. Untuk meningkatkan skor PPH, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan. Beberapa daintaranya adalah pemerintah telah menerbitkan Peraturan Presiden (Perpres) No. 22 Tahun 2009 tentang Kebijakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal. Perpres ini sudah ditindaklanjuti, dengan Peraturan Menteri Pertanian No.43 Tahun 2009 tentang Gerakan Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan (P2KP) Berbasis Sumberdaya Lokal sebagai acuan yang lebih operasional dalam implementasinya. Di tingkat Provinsi terdapat Peraturan Gubernur Jawa Barat Nomor 60 tahun 2010 Tentang Percepatan Penganekaragaman Konsumsi Pangan Berbasis Sumberdaya Lokal.

Sumber : http://dkpp.jabarprov.go.id/post/616/hubungan-antara-skor-pph-dengan-konsumsi-pangan-beragam-bergizi-seimbang-dan-aman-b2sa 

Bagikan:

Share on whatsapp
Share on facebook
Share on telegram
Share on twitter

Berikan Komentar

Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya